Rabu, 14 Maret
2018
A.
Hakikat Pembelajaran
1.
Pengertian
Pembelajaran
Menurut
Dimyati dan Mudjiono dalam Ahmar (2012:10) pembelajaran adalah kegiatan guru
secara terprogram dalam desain instruksional, untuk membuat belajar secara
aktif, yang menekankan pada penyediaan sumber belajar. Dalam Undang-Undang No.
20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 1 ayat 20 dinyatakan
bahwa Pembelajaran adalah Proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan
sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Konsep pembelajaran menurut Corey
dalam Ahmar (2012: 11) adalah suatu proses dimana lingkungan seseorang secara
disengaja dikelola untuk memungkinkan ia turut serta dalam tingkah laku
tertentu dalam kondisi-kondisi khusus atau menghasilkan respon terhadap situasi
tertentu, pembelajaran merupakan subset khusus dari pendidikan. Ahmar (2012:11)
menyimpulkan bahwa pembelajaran adalah usaha sadar dari guru untuk membuat
siswa belajar, yaitu terjadinya perubahan tingkah laku pada diri siswa yang belajar,
dimana perubahan itu dengan didapatkannya kemampuan baru yang berlaku dalam
waktu yang relative lama dan karena adanya usaha. Pembelajaran adalah suatu
kombinasi yang tersusun meliputi unsur-unsur manusiawi, material, fasilitas,
perlengkapan dan prosedur yang saling mempengaruhi untuk mencapai tujuan
pembelajaran (Hamalik, 1994).
Dari
beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran adalah proses
kegiatan interaksi antara guru dan siswa untuk membuat siswa belajar dalam
merubah tingkah laku dengan adanya usaha dalam proses belajar dalam kurun waktu
tertentu.
2.
Komponen
pembelajaran
Proses
pembelajaran berlangsung jika terjadinya interaksi, baik interaksi dengan guru,
teman-temannya, media pembelajaran dan atau sumber belajar yang lain. Sumiati
dan Asra dalam Ahmar (2012: 12) mengelompokkan komponen-komponen pembelajaran
dalam tiga komponen utama melibatkan metode pembelajaran, media pembelajaran
dan penataan lingkungan tempat belajar sehingga tercipta situasi pembelajaran
yang memungkinkan terciptanya tujuan yang telah direncanakan sebelumnya.
a)
Tujuan
Pembelajaran
Menurut H.
Daryanto dalam Ahmar (2012: 12), tujuan pembelajaran adalah tujuan yang
menggambarkan pengetahuan, kemampuan, keterampilan dan sikap yang harus
dimiliki siswa sebagai akibat dari hasil pembelajaran yang dinyatakan dalam
bentuk tingkah laku yang dapat diamati dan diukur. Ahmar (2012: 14)
menyimpulkan bahwa tujuan pembelajaran adalah rumusan secara terperinci apa
saja yang harus dikuasi oleh siswa sebagai akibat dari hasil pembelajaran yang
dinyatakan dalam bentuk tingkah laku yang dapat diamati dan diukur.
b)
Materi
Pembelajaran
Syaiful Bahri
Djamarah, dkk dalam Ahmar (2012: 15) menerangkan materi pembelajaran adalah
substansi yang akan disampaikan dalam proses belajar mengajar. Tanpa materi
pembelajaran proses belajar mengajar tidak akan berjalan. Harjanto dalam Ahmar
(2012: 15) menjelaskan beberapa kriteria pemilihan materi pembelajaran yang
akan dikembangkan dalam sistem pembelajaran dan yang mendasari penentuan
strategi pembelajaran, yaitu:
1)
Kriteria tujuan
pembelajaran.
Suatu materi
pembelajaran yang terpilih dimaksudkan untuk mencapai tujuan pembelajaran khusus
atau tujuan-tujuan tingkah laku. Karena itu, materi tersebut supaya sejalan
dengan tujuan-tujuan yang telah dirumuskan.
2)
Materi
pembelajaran supaya terjabar.
Perincian materi
pembelajaran berdasarkan pada tuntutan dimana setiap tujuan pembelajaran khusus
yang dijabarkan telah dirumuskan secara spesifik, dapat diamati dan terukur.
Ini berarti terdapat keterkaitan yang erat antara spesifikasi tujuan dan
spesifikasi materi pembelajaran.
3)
Relevan dengan
kebutuhan siswa.
Kebutuhan siswa
yang pokok adalah bahwa mereka ingin berkembang berdasarkan potensi yang
dimilikinya. Karena setiap materi pembelajaran yang akan disajikan hendaknya
sesuai dengan usaha untuk mengembangkan pribadi siswa secara bulat dan utuh. Beberapa
aspek di antaranya adalah pengetahuan sikap, nilai, dan keterampilan.
4)
Kesesuaian
dengan kondisi masyarakat.
Siswa
dipersiapkan untuk menjadi anggota masyarakat yang berguna dan mampu hidup
mandiri. Dalam hal ini, materi pembelajaran yang dipilih hendaknya turut
membantu mereka memberikan pengalaman edukatif yang bermakna bagi perkembangan mereka
menjadi manusia yang mudah menyesuaikan diri.
5)
Materi pembelajaran
mengandung segi-segi etik.
Materi
pembelajaran yang dipilih hendaknya mempertimbangkan segi perkembangan moral
siswa kelak. Pengetahuan dan keterampilan yang bakal mereka peroleh dari materi
pelajaran yang telah mereka terima di arahkan untuk mengembangkan dirinya
sebagai manusia yang etik sesuai dengan sistem nilai dan norma-norma yang
berlaku di masyarakat.
6)
Materi
pembelajaran tersusun dalam ruang lingkup dan urutan yang sistematik dan logis.
Setiap materi
pembelajaran disusun secara bulat dan menyeluruh, terbatas ruang lingkupnya dan
terpusat pada satu topik masalah tertentu. Materi disusun secara berurutan
dengan mempertimbangkan faktor perkembangan psikologi siswa. Dengan cara ini
diharapkan sisi materi tersebut akan lebih mudah diserap siswa dan dapat segera
dilihat keberhasilannya.
7)
Materi
pembelajaran bersumber dari buku sumber yang baku, pribadi guru yang ahli, dan
masyarakat.
Ketiga faktor
tersebut perlu diperhatikan dalam memilih materi pembelajaran. Buku sumber yang
baku umumnya disusun oleh para ahli dalam bidangnya dan disusun berdasarkan
GBPP yang berlaku, Kendatipun belum tentu lengkap sebagaimana yang diharapkan.
B.
Model desain pembelajaran
Dick
and Carey dalam Mudhofir (2016) mendefenisikan desain pembelajaran adalah
mencakup seluruh proses yang dilaksanakan pada pendekatan sistem yang terdiri
dari analisis, desain, pengembangan, implementasi dan evaluasi. Sedangkan Seels
and Richey dalam Mudhofir (2016) mendefinisikan desain pembelajaran adalah
prosedur yang terorganisasi yang meliputi langkah-langkah penganalisaan,
perancangan, pengembangan, pengaplikasian, dan penilian pengembangan.
Menurut
Sambaugh (dalam Sanjaya 2013) Desain sebagai proses rangkaian kegiatan yang
bersifat linear. Desain instruksional dapat diartikan sebagai proses yang
sistematis untuk memecahkan persoalan pembelajaran melalui proses perencanaan
bahan-bahan pembelajaran beserta aktivitas yang harus dilakukan, perencanaan
sumber-sumber pembelajaran yang dapat digunakan serta perencanaan evaluasi
keberhasilan.
Menurut Gentry
(dalam Sanjaya 2013) Berpendapat bahwa desain pembelajaran berkenaan dengan
proses menentukan tujuan pembelajaran, strategi dan teknik untuk mencapai
tujuan serta merancang media yang dapat digunakan untuk efektivitas pencapaian
tujuan. Dari pendapat ahli di
atas, dapat disimpulkan bahwa desain pembelajaran adalah tahapan yang akan
dilaksanakan meliputi langkah-langkah penganalisaan, perancangan, pengembangan,
pengaplikasian, dan penilian pengembangan secara terorganisir.
Gagne (1992)
menjelaskan bahwa desain pemmbelajaran disusun untuk membantu proses belajar
siswa, dimana proses belajar itu memiliki tahapan segera dan tahapan jangka
panjang. Belajar seseorang dapat dipengaruhi oleh dua faktor yakni faktor
internal dan faktor eksternal. Faktor internal
adalah faktor yg berkaitan dengan kondisi yang dibawa atau datang dari dalam
individu siswa, seperti kemampuan dasar, gaya belajar seseorang, minat dan
bakat serta kesiapan setiap individu yang belajar. Faktor eksternal adalah
faktor yang datang dari luar individu, yakni berkaitan dengan penyediaan
kondisi atau lingkungan yang didesain agar siswa belajar. Desain pembelajaran
berkaitan dengan faktor eksternal ini, yakni pengaturan lingkungan dan kondisi
yg memungkinkan siswa dapat belajar.
Desain instruksional
berkenaan dengan proses pembelajaran yg dapat dilakukan siswa untuk mempelajari
suatu materi pelajaran yg di dalamnya mencakup rumusan tujuan yg harus dicapai
atau hasil belajar yg diharapkan, rumusan strategi yg dapat dilaksanakan untuk
mencapai tujuan termasuk metode, teknik dan media yg dapat dimanfaatkan serta
teknik evaluasi untuk mengukur atau menentukan keberhasilan pencapaian tujuan.
Mendesain pembelajaran harus diawali dengan studi kebutuhan, karena berkenaan
dengan upaya untuk memecahkan persoalan yg berkaitan dengan proses pembelajaran
siswa dalam mempelajari suatu bahan atau materi pembelajaran.
1. Kriteria
Desain Instruksional
Beberapa kriteria desain
instruksional yang baik;
- Berorientasi
pada siswa
Sistem pembelajaran siswa merupakan
komponen kunci yang harus dijadikan orientasi dalam mengembangkan perencanaan
dan desain pembelajaran. Sebab desain pembelajaran dirancang untuk mempermudah
siswa belajar. Proses perencanaan dan pengembang dapat dilihat dan dipahami
dahulu beberapa hal tentang siswa antara lain, kemampuan dasar dan gaya
belajar.
- Bepihak
pada pendekatan sistem
Melalui pendekatan sistem dapat
mempresiksi keberhasilannya akan tetapi juga akan terhindar dari ketidakpastian
melalui pendekatan yang sudah diantisipasi berbagai kendala yang mungkin dapat
menghambat terhadap pencapaian tujuan.
- Teruji
secara empiris
Desain instruksional harus teruji
dahulu efektivitas dan efisiensinya secara empiris.
2. Model-model
desain instruksional
Perencanaan
pembelajaran berkaitan denan desain pembelajaran. Keduanya memiliki posisi yang berbeda. Perencanaan
lebih menekankan pada proses pengembangan atau penerjemahan suatu kurikukulum
sekolah, sedangkan desain menekankan pada proses merancang program pembelajaran
untuk membantu proses belajar siswa, seperti yang dikemukakan oleh Zook (2001)
bahwa desain intruksinonal adalah a
systematic thingking process to help learners learn. Banyak model desain
pembelajaran yang dikembangakan oleh para ahli. Di bawah ini disajikan beberapa di antaranya.
a. Model
Kemp
Model
desain sistem instruksional yang di
Model desain sistem instruksional yang dikembangkan oleh Kemp merupakan model
yang membentuk siklus. Menurut Kemp pengembangan desain sistem pembelajaran
terdiri atas komponen-komponen, yang dikembangkan sesuai dengan kebutuhan,
tujuan dan berbagai kendala yang timbul. Mengembangkan sistem instruksional,
menurut kemp dari mana ssja bias, asal saja urutan komponen tidak diubah, dan
setiap komponen itu memerlukan revisi untuk
mencapai hasil yang maksimal. Oleh karena itu model kemp, dilihat dari
kerangka sistem merupakan model yang sangat luwes.
Komponen-komponen dalam suatu desainn instruksional
menurut Kemp adalah:
-
Hasil yang ingin
dicapai
-
Analisis tes
mata pelajaran
-
Tujuan khusus
belajar
-
Aktivitas
belajar
-
Sumber belajar
-
Layanan
pendukung
-
Evaluasi belajar
-
Tes awal
-
Karakteristik
belajar
Kesembilan komponen itu
merupakan suatu siklus yang terus menerus direvisi setelah dievaluasi baik
evaluasi si sumatife maupun formatife dan diarahkan untuk menentukan kebutuhan
siswa, tujuan yang ingin dicapai, prioriatas, dan berbagai kendala yang muncul.
b.
Model Banaty
Model desain
sistem pembelajaran dari Barnathy berbeda dengan model Kemp. Model ini
memandang bahwa penyusunan sistem instruksional dilakukan melalui
tahapan-tahapan yang jelas. Terdapat 6 tahap dalam mendesain suatu program
pembelajaran yaitu:
1.
Menganalisis dan
merumuskan tujuan
2.
Merumuskan
kriteria tes yang sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai
3.
Menganalisis dan
merumuskan kegiatan belajar
4.
Merancang sistem
5.
Mengimplementasi
dan melakukan kontrol kualitas sistem
6.
Mengadakan perbaikan dan perubahan berdasarkan hasil
evaluasi
c.
Model Dick and
Cery
Seperti desai
model Banathy, dalam mendesain pembelajaran model Dick and Cery harus dimulai
dengan mengidentifikasi tujuan pembelajaran umum. Menurut model ini, sebelum
desainer merumuskan tujuan khusus yakni performance
goals, perlu menganalisis pembelajaran serta menentukan kemampuan awal
siswa terlebih dahulu. Tujuan khusus yang harus dicapai selanjutnya dirumuskan tes dalam bentuk Criterion Reference Test, artinya tes yang mengukur kemampuan penguasaan tujuan
khusus. Untuk mencapai tujuan khusus selanjutnya dikembangkan strategi
pembelajaran. Langkah akhir dari desaim adalah melakukan evaluasi, yakni
evaluasi formatife dan evaluasi sumative. Berdasarkan hasil evaluasi inilah
selanjutnya dilakukan umpan balik dalam merevisi program pembelajaran.
d.
Model PPSI
(Prosedur Pengembangan Sistem Instruksional)
Model PSSI
(Prosedur Pengembangan Sistem Instruksional) adalah model yang dikembangkan di
Indonesia untuk mendukung pelaksanaan kurikulum 1975. PPSI berfungsi untuk
mengefektifkan perencanaan dan
pelaksanaan program pengajaran secara sistematis, untuk dijadikan sebagai pedoman
bagi guru melaksanakan proses belajar
mengajar. PPSI terdiri dari 5 tahap yakni:1) merumuskan tujuan 2) mengembangkan
alat evaluasi 3) mengembangkan kegiatan belajar mengajar 4) mengembangkan
program kegiatan pembelajaran yakni merumuskan materi pelajaran 5) pelaksanaan
program.
C.
Analisis kebutuhan
Analisis
kebutuhan merupakan aktivitas ilmiah untuk mengidentifikasi faktor-faktor
pendukung dan penghambat proses pembelajaran guna memilih dan menentukan media
yang tepat dan relevan mencapai tujuan pembelajaran dan mengarah pada
peningkatan mutu pendidikan.
Menurut Anderson
analisis kebutuhan (need assessment)
diartikan sebagai suatu proses kebutuhan sekaligus melakukan prioritas.
Analisis kebutuhan adalah suatu cara atau metode untuk mengetahui perbedaan
antara kondisi yang diinginkan dengan kondisi yang ada. Kondisi yang diinginkan
disebut dengan kondisi ideal, sedangkan kondisi yang ada disebut kondisi riil.
Menurut kamus
besar bahasa Indonesia adalah kata bantu penguraian suatu pokok atas berbagai
bagiannya dan penelaahan bagian itu sendiri, serta hubungan antara bagian untuk
mendapatkan pengertian yang tepat dan pemahaman makna keseluruhan proses
pencarian jalan keluar yang berangkat dari dugaan akan keberadaanya,
penyelidikan terhadap suatu peristiwa untuk mengetahui keadaan yang sebenarnya.
Menurut Habibi
(2015:1), Kebutuhan adalah segala sesuatu yang dibutuhkan manusia untuk
mempertahankan hidup serta untuk memperoleh kesejahteraan dan kenyamanan.
Sedangkan
menurut Kaufan (dalam sihombing dan marni 2012) analisis kebutuhan dapat
dirumuskan sebagai suatu usaha untuk mengidentifikasi alat dan metode yang diperlukan
dalam rangka menghilangkan kesenjangan antara kenyataan dan harapan.
Dapat
disimpulkan bahwa analisi kebutuhan adalah suatu usaha untuk mengetahui segala
sesuatu yang dibutuhkan anak. Analisis kebutuhan juga disebut suatu kajian
terhadap asepek-aspek kebutuhan siswa baik melalui komponen-komponen dan sarana
yang diperlukan siswa untuk mencapai tujuan yang diharapkan.
Fungsi analasis
kebutuhan menurut Marrison antara lain:
1. mengidentifikasi
kebutuhan yang relevan dengan pekerjaan atau tugas sekarang yaitu masalah apa
yang mempengaruhi hasil pembelajaran.
2. Mengidentifikasi
kebutuhan mendesak yang terkait dengan finansial, keamanan atau masalah lain
yang mengganggu pekerjaan ataub lingkungan pendidikan.
3. Menyajikan
prioritas untuk memilih tindakan
4. Memberikan
data basis untuk menganalisa efektifitas pembelajaran.
Ada
enam macam kebutuhan yang biasa digunakan
1. kebutuhan
normatif, Membandingkan peserta didik dengan standar nasional, misal UAN,
SNMPTN dan sebaginya.
2. Kebutuhan
komperatif, Membandinkan peserta didik pada suatu kelompok dengan kelompok lain
yang selevel. Misal hasil EBTANAS SLTP A dengan SLTP B
3. Kebutuhan
yang dirasakan, hasrat atau keinginan yang dimiliki masing-masing peserta didik
yang perlu ditingkatkan. Kebutuhan ini menunjukkan kesenjangan antara tingkat
keterampilan yang nampak dengan yang dirasakan. Cara untuk mengidentifikasi
kebutuhan ini dengan cara interview
4. Kebutuhan
yang diekspresikan, yaitu kebutuhan yang dirasakan seseorang yang mampu
dirasakan seseorang yang mampu diekspresikan dalam tindakan. Misal, siswa yang
mendaftar sebuah kursus.
5. Kebutuhan
masa depan, mengidentifikasi perubahan yang akan terjadi dimasa mendatang.
Misal penerapan teknik pembelajaran yang baru
6. Kebutuhan
insidentil yang mendesak, faktor negatif yang muncul diluar dugaan yang sangat
berpengaruh. Misal benana nuklir, kesalahan medis, bencana alam dan sebagainya.
1.
Langkah-langkah
Analisis Kebutuhan
Analisis kebutuhan terdiri atas rangkaian kegiatan
yang diawali oleh kegiatan mengumpulkan informasi dan berakhir pada perumusan
masalah. Adapun tahapan dalam langkah-langkah analisis kebutuhan meliputi:
a.
Pengumpulan
informasi
Dalam merancang
pembelajaran pertama kali seorang desainer perlu memahami terlebih dahulu
informasi tentang siswa dapat mengerjakan apa, siapa memahami apa, siapa yang
akan belajar, kendala-kendala apa yang akan dihadapi, dan bagaimana pengaruh
keadaan tertentu terhadap karakteristik siswa. Berbagai informasi yang
dikumpulkan akan bermanfaat dalam menentukan tujuan yang ingin dicapai beserta
skala prioritas dalam pemecahan suatu masalah.
b.
Identifikasi
kesenjangan
Dalam identifikasi
kesenjangan Kaufman dan English (1979), menjelaskan identifikasi kesenjangan
melalui Organizational Elements Model (OEM). Dalam model OEM, Kaufman
menjelaskan adanya lima elemen yang saling berkaitan. Duaa elemen pertama,
yaituj input dan proses adalah bagaimana menggunakan setiap potensi dan sumber
yang ada; sedangkan elemen terakhir meliputi produk, output dan outcome
merupakan hasil akhir dari suatu proses.
Kategori kebutuhan
seperti yang dikemukakan dalam OEM digambarkan oleh Kaufman seperti gambar di
bawah ini:
1)
Input
2)
Proses
3)
Produk
4)
Output
5)
Outcome
Komponen input, meliputi kondisi yang
tersedia pada saat ini misalnya tentang
keuangan, waktu, bangunan, guru, pelajar, kebutuhan, problem, tujuan,
materi kurikulum yang ada. Komponen proses, meliputi pelaksanaan pendidikan
yang berjalan yang terdiri atas pola pembentukan staf, pendidikan yang
berlangsung sesuai dengan kompetensi, perencanaan, metode, pembelajaran individu,
dan kurikulum yang berlaku. Komponen produk, meliputi penyelesaian pendidikan,
keterampilan, pengetahuan dan sikap yang dimiliki, serta kelulusan tes
kompetensi. Komponen Output, meliputi ijazah kelulusan, keterampilan prasyarat,
lisensi. Komponen Outcome meliputi kecukupan dan kontribusi individu atau
kelompok saat ini dan masa depan. Outcome merupakan hasil akhir yang diperoleh.
Melalui analisis hasil, desainer dapat menentukan sejauh mana hasil yang
diperoleh dapat berkontribusi pada pencapaian tujuan. Inilah proses yang pada
hakikatnya menentukan kesenjangan antara harapan dan apa yang terjadi.
Berdasarkan analisis itulah, desainer dapat mendeskripsikan masalah dan
kebutuhan pada setiap komponen yakni input, proses, produk, dan output.
c.
Analisis performance
Tahap ketiga dalam
proses need assessment, adalah tahap menganalisis performance. Menganalisis
performance dilakukan setelah desainer
memahami berbagai informasi dan mengidentifikasi kesenjangan yang ada. Ketika kita menemukan
adanya kesenjangan, selanjutnya kita identifikasi kesenjangan mana yang dapat
dipecahkan melalui perencanaan pembelajaran dan mana yang memerlukan pemecahan
dengan cara lain, seperti melalui kebijakan pengelolaan baru, penentuan
struktur organisasi yang lebih baik, atau mungkin melalui pengembangan bahan
dan alat – alat. Untuk mennetukan semua itu kita perlu memahami faktor – faktor
penyebab terjadinya kesenjangan dan pemahaman tersebut dapat dilakukan pada
saat need assessment berlangsung.
Analisis
performance meliputi:
1)
Mengidentifikasi
guru
2)
Mengidentifikasi
saran dan kelengkapan penunjang
3)
Mengidentifikasi
berbagai kebijakan sekolah
4)
Mengidentifikasi
iklim sosial dan iklim sosiologi
Disamping semua unsur
tersebut, masih ada unsur lainnya yang perlu dianalisis, misalnya penerapan
hukuman dan ganjaran, sistem intensif yang diberikan baik pada guru maupun
siswa.
d.
Identifikasi
hambatan
Tahap keempat dalam
need assessment adalah mengidentifikasi berbagai kendala yang muncul beserta
sumber-sumbernya. Dalam pelaksanaan suatu program berbagai kendala bias muncul sehingga dapat berpengaruh
terhadap kelancaran suatu program. Berbagai kendala dapat meliputi, waktu
fasilitas, bahan, pengelompokan dan komposisinya, pilosofi, personal, dan
organisasi. Sumber-sumber kendala bisa berasal dari pertama, orang yang
terlibat dalam suatu program pembelajaran, misalnya guru-kepala sekolah, dan
siswa itu sendiri. Termasuk juga dalam unsure orang ini adalah unsure filsafat
atau pandangan yang terhadap pekerjaannya, motivasi kerja, dan kemampuan yang
dimilikinya. Kedua, fasilitas yang ada, di dalamnya meliputi ketersediaan dan kelengkapan
fasilitas serta kondisi fasilitas. Ketiga, berkaitan dengan jumlah pendanaan
beserta pengaturannya
e.
Identifikasi
karakteristik siswa
Tahap kelima dalam need
assessment adalah mengidentifikasi siswa. Tujuan utama dalam desain
pembelajaran adalah memecahkan berbagai problema yang dihadapi siswa, oleh
karena itu hal-hal yang berkaitan dengan siswa adalah bagian dari need
assessment. Identifikasi yang berkaitan dengan siswa di antaranya adalah tentang usia, jenis kelamin, level
pendidikan, tingkat social ekonomi, latar belakang, gaya belajar, pengalaman
dan sikap. Karakteristik siswa seperti di atas, akan bermanfaat ketika kita
menentukan tujuan yang harus dicapai, pemilihan dan penggunaan strategi
pembelajaran yang di anggap cocok, serta untuk menentukan teknik evaluasi yang
relevan.
f.
Identifikasi
prioritas, tujuan
Kaufman (1983)
mendefinisikan need assessment sebagai suatu proses mengidentifikasi,
mendokumentasi dan menjustifikasi kesenjangan antara apa yang terjadi dan apa
yang akan dihasilkan melalui penentuan skala prioritas dari setiap kebutuhan.
Definisi yang dikemukakan oleh Kaufman berhubungan erat dengan tujuan yang
ingin dicapai. Oleh sebab itu, mengidentifikasi tujuan yang ingin dicapai
merupakan salah satu kegiatan yang harus dilaksanakan dalam proses need
assessment. Tidak semua kebutuhan menjadi tujuan dalam desain intruksional.
Seorang desainer perlu menetapkan kebutuhan-kebutuhan apa yang dianggap mendesak
untuk dipecahkan sesuai dengan kondisi. Ini hakikatnya menentukan skala
prioritas dalam need assessment.
Terdapat beberapa teknik dalam menentukan skala prioritas dari data yang telah
terkumpul. Misalnya teknik perangkingan meliputi Teknik Delphi, Fokus Group
Discussion, Q-Sort, dan Storyboarding. Teknik-teknik ini digunakan untuk
menjaring berbagai tujuan yang dianggap perlu melalui penilaian para ahli yang
terlibat pada diskusi. Dengan demikian, rumusan tujuan benar-benar hasil suatu
studi yang dibutuhkan dan diperlukan untuk dipecahkan
g.
Merumuskan
masalah
Tahap akhir dalam
proses analisis masalah adalah menuliskan pernyataan masalah sebagai pedoman
dalam penyusunan proses desain intruksional. Penulisan masalah pada dasarnya
merupakan rangkuman atau sari pati dari permasalahan yang ditentukan.
Pernyataan masalah harus ditulis secara singkat dan padat yang biasanya tidak
lebih dari satu-dua paragraf. Salah satu format yang sederhana dikembangkan
oleh Jung, Pino dan Emory (1979), yang dinamakan dengan RUPS (Research
Utilizing Problem Solving). Tujuan RUP adalah merumuskan latar belakang dan
konteks permasalahan, bagaimana tipe permasalahan dan memberikan tujuan
berdasarkan permasalahan untuk dikembangkan. Teknik RUPS merupakan teknik yang
dianggap paling baik ketika kita ingin menjawab permasalahan yang harus
dipecahkan.
D.
Analisis karakteristik siswa
Kegiatan
menganalisis perilaku dan karakteristik siswa dalam mengembangkan pembelajaran
merupakan pendekatan yang menerima siswa apa adanya dan menyusun sistem
pembelajaran atas dasar keadaan siswa tersebut. Karakteristik siswa merujuk kepada
ciri khusus yang dimiliki oleh siswa, dimana ciri tersebut dapat mempengaruhi
tingkat keberhasilan pencapaian tujuan belajar. Karakteristik siswa merupakan
ciri khusus yang dimiliki oleh masing-masing siswa baik sebagai individu atau
kelompok sebagai pertimbangan dalam proses pengorganisasian pembelajaran
(Alfin, 2015). Analisis karakteristik awal siswa merupakan salah satu upaya
yang dilakukan untuk memperoleh
pemahaman tentang tuntutan, bakat, minat, kebutuhan dan kepentingan siswa,
berkaitan dengan suatu program pembelajaran tertentu. Tahapan ini dipandang
begitu perlu mengingat banyak pertimbangan seperti siswa, perkembangan sosial,
budaya, ekonomi, ilmu pengetahuan dan teknologi, serta kepentingan program
pendidikan/pembelajaran tertentu yang
akan diikuti siswa. Dalam menganalisis karakteristik siswa, ada beberapa hal
yang perlu diperhatikan:
1.
Karakterisitk
atau keadaan yang berkenaan dengan kemampuan awal seperti kemmapuan
intelektual, kemampuan berfikit atau kemampuan gerak.
2.
Karakteristik
yang berhubungan dengan latar belakang dan status sosial dan kebudayaan
3.
Karakteristik
yang berkenaan dengan perbedaan kepribadian seperti sikap, perasaan, minat dan
sebagainya.
Ada
dua karakteristik awal siswa perlu dipahami oleh guru yakni :
1) Latar
belakang akademik mencakup
a. Jumlah
siswa
Guru
perlu mengetahui berapa jumlah siswa yang akan diajar untuk mengetahui apakah
mengajar pada kelas kecil atau kelas besar. Pemahaman guru terhadap jumlah
siswa akan mempengaruhi persiapan guru dalam menentukan materi, metode, media
waktu yang dibutuhkan dan evaluasi pembelajaran yang akan dilakukan. Untuk
mengetahui jumlah siswa, maka guru dapat berkoordinasi dengan bagian akademik.
b. Latar
belakang siswa
Pemahaman
guru terhadap latar belakang siswa seperti latar belakang keluarga, tingkat ekonomi,
hobi dan lain sebagainya, juga berpengaruh terhadap proses perumusan
perencanaan sistem pembelajaran. Untuk memperoleh data tentang latar belakang
siswa dapat diperoleh melalui pengisian biodata oleh siswa.
c. Indeks
prestasi
Indeks
prestasi juga menjadi penting untuk diketahui guru, agar materi yang akan
disajikan:
- Dapat
disesuaikan dengan tingkat prestasi yang mereka miliki
- Bahkan
siswa yang memiliki tingkat prestasi yang homogen dapat ditempatkan pada kelas
yang sama
- Guru
juga bisa mempertimbangkan tingkat keluasan dan kedalaman materi yang
disampaikan dengan prestasi yang dimiliki siswa
- Untuk
mengetahui indeks prestasi siswa dapat di peroleh melalui nilai rapor
sebelumnya atau seleksi kemampuan awal siswa yang diselenggarakan lembaga.
d. Tingkat
intelegensi
Memahami tingkat
intelegensi siswa juga dapat mengukur dan memprediksi :
- Tingkat
kemampuan mereka dalam menerima materi pembelajaran
- Mengukur
tingkat kedalaman dan keluasan materi
- Bahkan
dengan memahami tingkat intelegensi siswa guru dapat menyusun materi, metode,
media serta tingkat kesulitan evaluasi terhadap siswa.
Tingkat
intelegensi siswa dapat diperoleh melalui tes intelengensi atau tes potensi
akademik (TPA).
e. Keterampilan
membaca
Salah
satu kecakapan yang harus dimiliki siswa dalam belajar adalah keterampilan
membaca, keterampilan membaca adalah menyangkut tentang kemampuan siswa dalam
menyimpulkan secara tepat dan akurat tentang bahan bacaan yang mereka baca.
Untuk mengetahui tingkat keterampilan membaca siswa dapat dilakukan melalui tes
membaca dan menyimpulkan bahan bacaan dalam rentang waktu yang telah
ditentukan.
f. Nilai
ujian
Nilai
ujian dapat dijadikan sebagai pedoman untuk memahami karakteristik awal siswa.
untuk memperoleh nilai ujian siswa perlu dilakukan tes kemampuan awal siswa
terhadap mata pelajaran yang diampuh oleh guru yang bersangkutan.
g. Kebiasaan
belajar/gaya belajar
Aspek
lain yang perlu diperhatikan guru dalam mengajar adalah memahami gaya belajar
siswa atau yang disebut dengan learning
style. Gaya belajar mengacu pada cara belajar yang lebih disukai siswa.
Dalam proses pembelajaran, banyak siswa yang
mengikuti belajar pada mata pelajaran tertentu, diajar dengan
menggunakan strategi yang sama, akan tetapi mempunyai tingkat pemahaman yang
berbeda-beda. Perbedaan ini tidak hanya disebabkan oleh tingkat kecerdasan
siswa yang berbeda-beda, akan tetapi juga ditentukan oleh cara belajar yang
dimiliki oleh masing-masing siswa. seorang siswa yang senang membaca, kurang
terbiasa belajar dengan baik jika dia harus mendengarkan ceramah atau
berdiskusi. Demikian juga, siswa yang senang bergerak atau berdiskusi, tidak
akan belajar dengan baik jika dia harus mendengarkan ceramah dari guru. Lebih
lanjut, gaya belajar atau learning style sering
diartikan sebagai karakteristik dan preferensi atau pilihan individu mengenai
cara mengumpulkan informasi, menafsirkan, mengorganisasi, merespons, dan
memikirkan informasi tersebut.
Keanekaragaman
gaya belajar siswa perlu diketahui oleh guru pada awal belajar. Sehingga guru
memiliki dasar dalam menentukan pendekatan dan media pembelajaran apa yang
relevan dengan gaya belajar siswa. Karena prinsip dari efektivitas proses
pembelajaran sangat ditentukan oleh kesesuaian antara pendekatan pembelajaran
berdasarkan tingkat perkembangan psikologis dengan gaya belajar yang disukai
oleh siswa.
h. Minat
belajar
Minat
belajar juga dapat dijadikan sebagai tolok ukur dalam memahami karakteristik
siswa. Hal ini dilakukan agar guru dapat memprediksi/melihat tingkat antusias
siswa terhadap pembelajaran yang disampaikan. Oleh sebab itu, guru perlu
melakukan wawancara atau pengisian angket, agar dapat merangkum seluruh
penilaian yang mencerminkan tentang minat siswa terhadap mata pelajaran yang
akan disampaikan.
i. Harapan/keinginan
siswa
Harapan
dan keinginan siswa terhadap mata pelajaran yang akan diberikan juga bisa
dijadikan sebagai patokan guru dalam memahami karakteristik siswa. Hal ini
dapat dilakukan dengan meminta siswa untuk mengemukakan pendapatnya tentang
harapan mereka terhadap mata pelajaran yang akan diberikan, suasana yang
diinginkan, serta tujuan yang ingin diperoleh dari mata pelajaran yang
disajikan.
j. Lapangan
kerja/cita-cita yang diinginkan
Hal
ini dapat dilakukan dengan pengisian angket. Sehingga berdasarkan informasi ini
guru dapat memberikan bimbingan dan motivasi terhadap siswa dalam upaya
pencapaian cita-cita mereka inginkan. Faktor-faktor sosial yang meliputi
hal-hal berikut ini:
§ Usia
Faktor
usia dapat dijadikan patokan dalam memahami karakteristik siswa. memahami usia
siswa akan berpengaruh terhadap pemilihan pendekatan pembelajaran yang akan
dilakukan. Pendekatan belajar yang digunakan terhadap usia kanak-kanak tentu
saja berbeda dengan pendekatan belajar yang digunakan terhadap anak remaja atau
dewasa.
§ Kematangan
(maturity)
Kematangan
juga dapat dijadikan sebagai patokan dalam memahami karakteristik siswa, di
mana kematangan secara psikologis juga menjadi pertimbangan guru dalam
menentukan berbagai macam pendekatan belajar yang sesuai dengan tingkat
usia/kesiapan siswa. Dalam ilmu psikologi pendidikan kematangan ini disebut
juga dengan perkembangan. Perkembangan merupakan suatu perubahan yang bersifat
kualitatif dari pada fungsi-fungsi tubuh manusia baik jasmani maupun rohani.
Dari perkembangan jasmani dan rohani manusia yang terjadi pada setiap fase
kehidupan manusia. Mengarah kepada terjadinya proses kematangan.
§ Rentangan
perhatian (attention span)
Rentang
perhatian siswa adalah jumlah waktu normal siswa dapat berkonsentrasi dalam
mendengarkan uraian pembelajaran.
§ Bakat-bakat
istimewa
Sebagaimana
dipahami bahwa setiap anak memiliki berbagai macam potensi yang berbeda satu
sama lainnya. Untuk itu guru perlu memahami perbedaan bakat tersebut agar dapat
dikembangkan secara optimal.
§ Hubungan
dengan sesame siswa
Berdasarkan
penelitian ilmiah yang dilakukan hari ini, bahwa interaksi antara guru dan
siswa, siswa dengan yang lainnya tidak lagi menjadi hubungan secara sepihak
tetapi lebih jauh merupakan hubungan emosional dan simpatik (interaktif) lewat
proses belajar mengajar. Siswa tidak lagi menjadi objek didik tetapi telah
tereduksi dengan polarisasi pemikiran hari ini yaitu sebagai subjek didik,
proses interaksi yang menyenangkan dan menggairahkan menjadikan belajar
efektif. Dengan demikian memahami hubungan antar siswa membantu guru dalam
megembangkan pendekatan-pendekatan belajar yang bertumpu kepada kerja sama
siswa dalam belajar.
§ Keadaan
sosial ekonomi
Pemahaman
guru terhadap keadaan sosial ekonomi siswa juga dapat membantu guru dalam
menntukan pndekatan dan sumber belajar. Secara kasat mata, dapat diperhatikan
bahwa sebagian besar siswa mengalami kendala dalam memenuhi kebutahan sumber
belajar.
2) Manfaat
Memahami Karakteristik Siswa
a. Memperoleh
gambaran yang lengkap dan terperinci tentang kemampuan awal para siswa, yang
berfungsi sebagai prerequisite (prasyarat)
bagi bahan baru yang akan disampaikan. Diharapkan bahan baru itu tidak terlalu
mudah atau tidak terlampau sulit bagi siswa untuk mempelajarinya. Yang lebih
baik ialah bahan baru tersebut merupakan kelanjutan prerequisite (prasyarat) yang telah dimiliki oleh siswa sebelumnya.
Dengan demikian diharapkan dapat tercapai tingkat keberhasilan belajar secara
optimal.
b. Memporoleh
gambaran tentang luas dan jenis pengalaman yang telah dimiliki oleh siswa.
dengan berdasarkanpengalaman tersebut, guru dapat memberikan bahan yang lebih nyekrup dan memberikan contoh dan
ilustrasi yang tidak asing lagi bagi siswa. dengan demikian, siswa akan lebih
mudah menerima dan menyerap bahan-bahan yang baru disajikan oleh guru.
c. Mengetahui
latar belakang sosial kultural para siswa, termasuk latar belakan keluarga,
seperti tingkat pendidikan orang tua, tingkat sosial ekonomi dan demensi-demensi
kehidupan lainnya yang melatarbelakangi perkembangan sosial emosional dan
mental mereka. Dengan demikian, guru dapat memberikan bahan yang lebih serasi
dengan metode yang lebih efesien.
d. Mengtahui
tingkat pertumbuhan dan perkembangan siswa, baik jasmani maupun rohani. Tingkat
perkembangan tersebut besar pengaruhnya terhadap keberhasilan belajar dan cara
belajar siswa. dengan demikian, guru dapat merancang suatu rencana pengajaran
yang ebih sesuai bagi mereka atau kesiapan membaca dan menunjuk para prilaku
yang harus diperoleh oleh siswa sebelum dia mulai membaca.
e. Untuk
menentukan kelas-kelas tingkat laku awal ada tiga jenis alat yang dapat
digunakan, yaitu peragkat belajar, kemampuan belajar, dan gaya belajar. Antara
yang stu dengan yang lainnya berhubungan dengan konsep tingkah laku awal.
f. Mengetahui
aspirasi dan kebutuhan para siswa.dengan cara itu guru dapat merancang strategi
yang lebih tepat untuk memenuhi kebutuhan dan aspirasi itu, baik secara
individual maupun secara kelompok.
g. Mengetahui
tingkat penguasaan pengetahuan yang telah di peroleh oleh siswa sebelumnya.
Perkembangan aspek kognitif dan intelektual tersebut dijadikan sebagai dasar
dalam merencanakan pengetahuan baru, yang dirancang secara tepat.
h. Mengetahui
tingkat penguasaan bahasa siswa, baik lisan maupun tertulis. Tingkat penguasaan
bahasa menjadi dasar pertimbangan dalam penyajian bahan pelajaran agar lebih
mudah dipahami dan dicerna oleh siswa. Guru pun dapat dan berusaha menyesuaikan
kemampuan berbahasa para siswa agar terjadi komunikasi yang seimbang dan
berhasil.
i. Mengetahui
sikap dan nilai yang menjiwai pribadi pada siswa. bahan itu dapat dijadikan
dasar pertimbangan dalam perencanaan pengajaran yang memungkinkan keterlibatan
pribadinya dalam proses belajar.